Representasi Perempuan Adat dan Ruang Hidup Cenderawasih dalam Poster Film Dokumenter Ingger Wewal
Keywords:
cenderawasih betina; ekofeminisme; perempuan adat; poster dokumenter; semiotika visualAbstract
Poster dokumenter ikut membentuk cara suatu komunitas diperkenalkan kepada publik. Dalam Ingger Wewal, perempuan adat Sawesuma hadir bersama ilustrasi cenderawasih betina, rumah belajar, dan bentuk menyerupai peta yang berkaitan dengan persoalan ruang hidup. Penelitian ini menelaah hubungan antartanda tersebut dalam representasi perempuan adat dan habitat cenderawasih, serta batas pembacaan poster sebagai media advokasi. Analisis kasus visual secara kualitatif dilakukan terhadap satu poster, sinopsis film, catatan penjelasan Risaldi mengenai ilustrasi, dan ringkasan wawancara Novilla Maria Aru. Pembacaan denotasi, konotasi, dan mitos dipadukan dengan perspektif ekofeminisme yang memperhatikan pengalaman sosial perempuan. Cenderawasih betina menghubungkan nama kelompok dengan identitas perempuan, sedangkan foto yang disertai nama menghadirkan anggota kelompok sebagai pribadi yang dikenali. Rumah belajar memberi konteks bagi kegiatan mengajar, membuat noken, dan mengolah kerupuk sagu. Bentuk menyerupai peta membuka pembacaan tentang ruang hidup, tetapi tidak membuktikan batas tanah atau jenis perkebunan. Hubungannya dengan sawit bertumpu pada keterangan Novilla, bukan identifikasi ikon pohon. Poster menyusun kedekatan antara perempuan dan lingkungan melalui kerja sehari-hari dan organisasi kolektif. Potensi advokasinya terletak pada cara isu diperkenalkan; pengaruhnya terhadap penonton memerlukan penelitian tersendiri.
References
Bennett, B., Maar, M., Manitowabi, D., Moeke-Pickering, T., Trudeau-Peltier, D., & Trudeau, S. (2019). The Gaataa’aabing visual research method: A culturally safe Anishinaabek transformation of photovoice. International Journal of Qualitative Methods, 18, 1609406919851635. https://doi.org/10.1177/1609406919851635
Chao, S. (2018). In the shadow of the palm: Dispersed ontologies among Marind, West Papua. Cultural Anthropology, 33(4), 621–649. https://doi.org/10.14506/ca33.4.08
Foster, E. (2021). Ecofeminism revisited: Critical insights on contemporary environmental governance. Feminist Theory, 22(2), 190–205. https://doi.org/10.1177/1464700120988639
Glaw, X., Inder, K., Kable, A., & Hazelton, M. (2017). Visual methodologies in qualitative research. International Journal of Qualitative Methods, 16(1), 1609406917748215. https://doi.org/10.1177/1609406917748215
Kadir, H. A. (2022). Women’s grievances and land dispossession: Reading landscapes through Papuan independent films. eTropic: Electronic Journal of Studies in the Tropics, 21(1), 143–164. https://doi.org/10.25120/etropic.21.1.2022.3843
Kanem, V., & Norris, A. (2018). An examination of the noken and indigenous cultural identity: Voices of Papuan women. Journal of Cultural Analysis and Social Change, 3(1), 01. https://doi.org/10.20897/jcasc/86189
Khairiyah, A., Muryani, T., & Isnania, R. (2024). The ecofeminism practice: The women’s movement in the documentary film “Sangihe Melawan.” Jurnal Pemikiran Sosiologi, 11(1), 1–25. https://doi.org/10.22146/jps.v11i1.87864
Mariam, N., Komala, I., & Yunita, G. (2026). Representasi identitas perempuan dalam poster film Yuni (2021): Analisis semiotika Roland Barthes. Jurnal Dasarrupa: Desain dan Seni Rupa, 8(1), 32–39. https://doi.org/10.52005/dasarrupa.v8i1.410
Montoya, T., Baca, A., Martinez-Chavez, T., & Ramones, I. (2023). Producing indigenous media: Protocols, circulation, and the politics of accountability. Visual Anthropology Review, 39(1), 128–143. https://doi.org/10.1111/var.12294
Nahumury, A. P., & Twikromo, Y. A. (2025). Papuan women and their culture: Reception analysis of cultural identity portrayed in Noken Rahim Kedua documentary film. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 21(2), 105–118. https://doi.org/10.24821/rekam.v21i2.15048
Pambudi, I. S., & Imanjaya, E. (2026). Indigenous visual cosmology as ritual communication system: A semiotic analysis of Senyawa’s Vajranala album artwork. Frontiers in Communication, 11, 1774920. https://doi.org/10.3389/fcomm.2026.1774920
Pratiwi, A., Amri, U., & Suandari, F. (2024). Semiotic analysis of Surau dan Silek movie posters. Puitika, 20(1), 22–38. https://doi.org/10.25077/puitika.v20i1.587
Runtuboi, Y. Y., Permadi, D. B., Sahide, M. A. K., & Maryudi, A. (2021). Oil palm plantations, forest conservation and indigenous peoples in West Papua Province: What lies ahead? Forest and Society, 5(1), 23–31. https://doi.org/10.24259/fs.v5i1.11343
Wambrauw, M. S. F., Ohee, K., & Anastasia, A. (2022). Analysis the impact of the forest crisis on Merauke women in the perspective of ecofeminism. Jurnal Perempuan dan Anak, 5(2), 104–130. https://doi.org/10.22219/jpa.v5i2.22152
Zhafirah, F. S., Priyatna, A., & Adipurwawidjana, A. J. (2023). The ambivalent portrayal of the ecofeminist movement in Tanah Ibu Kami (2020). Metahumaniora, 13(3), 220–228. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v13i3.48736







