Fungsi Lantunan Yasi dalam Upacara Bakar Batu Masyarakat Kampung Pipal Pegunungan Bintang Papua
Keywords:
lantunan yasi,, bakar batu,, Ketengban,, Pegunungan Bintang.Abstract
Penelitian ini mengkaji fungsi lantunan Yasi dalam konteks upacara Bakar
Batu yang dilaksanakan oleh masyarakat Pegunungan Bintang, khususnya
suku Ketengban. Yasi merupakan nyanyian tradisional yang dilantunkan
dalam berbagai ritus adat dan sosial, termasuk perang suku, pembayaran
mas kawin, dan peresmian gedung. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menggali makna simbolik dan fungsi sosial dari Yasi serta hubungannya
dengan ritual Bakar Batu sebagai ekspresi kelompok masyarakat. Melalui
pendekatan kualitatif deskriptif dan wawancara dengan informan lokal,
ditemukan bahwa lantunan Yasi tidak sekadar nyanyian, tetapi menjadi
sarana komunikasi emosional, pewarisan nilai budaya, dan penguat
solidaritas. Tiga jenis nyanyian yang dianalisis menunjukkan berbagai
ekspresi perasaan, seperti kekecewaan, harapan, dan kebersamaan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Yasi adalah bagian dari identitas
budaya suku Ketengban dan memiliki nilai strategis dalam pelestarian
budaya lisan Papua.
References
Daftar Pustaka
Kamma, F. C. (1972). Koreri: Messianic Movements in the Biak-Numfor Culture Area. The Hague: Martinus Nijhoff.
Mansoben, J. R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI-RUL.
Koentjaraningrat. (1993). Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Djambatan.
Rutherford, D. (2003). Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. Princeton: Princeton University Press.
Giay, B. (2000). Zakheus Pakage and His Communities. PhD Dissertation, Vrije Universiteit Amsterdam.
Widjojo, M. S., et al. (2008). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI Press.
Timmer, J. (2000). Living with Intricate Futures. PhD Dissertation, University of Nijmegen.
Kirksey, E. (2012). Freedom in Entangled Worlds: West Papua and the Architecture of Global Power. Durham: Duke University Press.
Chauvel, R., & Bhakti, I. N. (2004). The Papua Conflict: Jakarta's Perceptions and Policies. Policy Studies, 5. Washington: East-West Center.
McGibbon, R. (2004). Secessionist Challenges in Aceh and Papua: Is Special Autonomy the Solution? Policy Studies, 10. Washington: East-West Center.
Sumule, A. (2003). Swimming Against the Current: The Drafting of the Special Autonomy Bill for the Province of Papua and Its Passage through the National Parliament of Indonesia. Journal of Pacific History, 38(3), 353-369.
Bertrand, J. (2014). Political Change in Papua: Governance, Land Rights and Indigenous Autonomy. In Autonomy and Armed Separatism in South and Southeast Asia (pp. 166-184). Singapore: ISEAS.
Slama, M., & Munro, J. (Eds.). (2015). From 'Stone Age' to 'Real Time': Exploring Papuan Temporalities, Mobilities and Religiosities. Canberra: ANU Press.
Depari, E. (1999). Musik Tradisional Papua dalam Perspektif Etnomusikologi. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 1(1), 45-58.
Prier, K. E. (2009). Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Sedyawati, E. (1981). Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.
Soedarsono, R. M. (1999). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Jakarta: Kemendikbud.
Pemerintah Provinsi Papua. (2008). Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat atas Tanah.
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua. (2015). Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda Papua. Jayapura: BPNB Papua.
Rumbino, A. (2023). Fungsi Musik Tradisional dalam Upacara Adat Masyarakat Papua Pesisir. Tesis Magister, Universitas Cenderawasih.
Tabuni, M. (2023). Tradisi Bakar Batu sebagai Identitas Budaya Masyarakat Papua Pegunungan. Skripsi, Universitas Cenderawasih.
Nipur, Y., Rumampuk, D., & Matheosz, P. (2022). Makna Simbolik Upacara Bakar Batu dalam Masyarakat Adat Papua. Jurnal Kajian Budaya Papua, 5(2), 112-128.








