Ekspresi Musikal Black Brothers sebagai Resistensi Budaya Papua pada Masa Orde Baru
Keywords:
Black Brothers, Papua, resistensi kultural, Orde Baru, Ekspresi MusikalAbstract
Penelitian ini mengkaji ekspresi musikal Black Brothers sebagai strategi resistensi kultural terhadap dominasi negara pada masa Orde Baru. Sebagai kelompok musik legendaris asal Papua, Black Brothers tidak hanya dikenal karena kontribusinya dalam musik populer Indonesia, tetapi juga melalui peran penting mereka dalam membangun kesadaran identitas, martabat, dan solidaritas kolektif masyarakat Papua. Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan berekspresi dibatasi dan identitas nasional dihomogenkan, musik menjadi ruang artikulasi simbolik bagi kelompok terpinggirkan untuk menyampaikan kritik dan aspirasi tanpa konfrontasi langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan studi literatur. Sumber data mencakup syair lagu, dokumentasi pertunjukan, arsip media, serta kajian akademik terkait musik, resistensi budaya, dan diaspora Afro-Melanesia. Analisis dilakukan menggunakan kerangka teori resistensi kultural, performativitas, dan identitas rasial. Temuan menunjukkan bahwa Black Brothers mengartikulasikan perlawanan melalui penggunaan metafora dalam lirik, pengolahan genre reggae-rock yang identik dengan tradisi Afro-diaspora, serta performativitas panggung yang menegaskan kebanggaan rasial Melanesia. Musik Black Brothers tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi menjadi medium politik kultural yang menyuarakan trauma kolonial, ingatan kolektif, dan harapan kebebasan Papua secara simbolis. Penelitian ini memperkuat pemahaman tentang peran musik sebagai ruang perlawanan non-kekerasan dalam konteks politik represif, sekaligus membuka ruang penelitian lanjutan mengenai praktik estetis Papua sebagai bentuk diplomasi budaya dan advokasi memori sejarah dalam komunitas pascakolonial.
Kata kunci: Black Brothers, Papua, resistensi kultural, Orde Baru, Ekspresi Musikal
References
Anas, M., Frank, S. A. K., & Idris, U. (2020). Anana Bicara-Bicara: Selera Musik, Gaya Hidup, dan Strategi Rapper di Kota Jayapura. CENDERAWASIH: Jurnal Antropologi Papua, 1(1), 51–64. https://doi.org/10.31957/jap.v1i1.1381
Arjaya, D. (2017). Dangdut dan Rezim Orde Baru: Wacana Nasionalisasi Musik Dangdut Tahun 1990-an. Lembaran Sejarah, 12(1), 22. https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.25516
Awom, I. Y. P. (n.d.). TAFSIRAN KOGNISI PUITIS TERHADAP LAGU BLACK BROTHERS DALAM MENGUNGKAP TRANSKRIP TERSEMBUNYI (HIDDEN TRANSCRIPT).
Born, G. (2011). Music and the materialization of identities. Journal of Material Culture, 16(4), 376–388. https://doi.org/10.1177/1359183511424196
Cahyaningsih, G. D. (2016). LATAR BELAKANG WAJIB BELAJAR MASA ORDE BARU TAHUN 1984. 4(3).
Chesterfield, N. (2011). Exposé through music of media ignorance of West Papua. Pacific Journalism Review : Te Koakoa, 17(2), 223–227. https://doi.org/10.24135/pjr.v17i2.361
Connell, J., & Gibson, C. (2003). Sound Tracks (0 ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203448397
Fairley, J. (1996). Ethnicity, Identity and Music: The Musical Construction of Place. Edited by Martin Stokes. Oxford/Providence, USA: BERG Ethnic Identities Series, 1994. 212 pp. Popular Music, 15(1), 126–127. https://doi.org/10.1017/S0261143000008023
Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA), Manokwari, Papua Barat, & Suryawan, I. N. (2018). RUANG BERUBAH BERSAMA-SAMA: ANTROPOLOGI DALAM TRANSFORMASI SOSIAL BUDAYA PAPUA. Studi Budaya Nusantara, 2(2), 72–79. https://doi.org/10.21776/ub.sbn.2018.002.02.02
Fatimah, S. (2007). Perempuan dan Kekerasan pada Masa Orde Baru. 2.
Florina, I. D. (2014). REPRESENTASI REPRESI ORDE BARU TERHADAP BURUH (STUDI SALURAN KOMUNIKASI MODERN CHRISTIAN METZ DALAM FILM MARSINAH (CRYJUSTICE)). 2.
Hadi, D. W., & Kasuma, G. (n.d.). PROPAGANDA ORDE BARU 1966-1980. 1.
Iqbal, M. (2019). Pelarangan Buku di Indonesia era Orde Baru: Perspektif Panoptikon Michel Foucault. AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA, 9(1), 56–78. https://doi.org/10.25273/ajsp.v9i1.3591
Mackinnon, N. (1996). Http://www.jstor.org Review. Folk Music Journal, 7(2), 244–245.
Ningsih, C. R., Siregar, S. F. A., & Harahap, R. (2024). Resistensi Terhadap Kekuasaan Orde Baru dan Cerminan Zaman Dalam Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul. 8(1).
Rahayu, L. M., & Priyatna, A. (2020). Upaya Resistensi pada Rezim Represif melalui Sastra Drama: Telaah atas “Opera Kecoa” karya Riantiarno dan “Perahu Retak” karya Emha Ainun Najib (Resistance Efforts towards the Repressive Regime: Study on Riantiarno’s ‘Opera Kecoa’ and Emha Ainun Najib’s ‘Perahu Retak’). Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya, 9(2), 120. https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.120-136
Siagian, M. (2025). Four Decades of Papuan Diaspora Campaigning for Papuan Independence in the Pacific Region. Papua Journal of Diplomacy and International Relations, 5(1), 65–85. https://doi.org/10.31957/pjdir.v5i1.4313
Smythe, J. (2013). The Living Symbol of Song in West Papua: A Soul Force to be Reckoned With. Indonesia, 95(1), 73–91. https://doi.org/10.1353/ind.2013.0000
Sukamto, A. (2013). Ketegangan Antar Kelompok Agama pada Masa Orde Lama sampai Awal Orde Baru: Dari Konflik Perumusan Ideologi Negara Sampai Konflik Fisik. Indonesian Journal of Theology, 1(1), 25–47. https://doi.org/10.46567/ijt.v1i1.90
Suwirta, A. (2018). Pers dan Kritik Sosial pada Masa Orde Baru: Studi Kasus Pers Mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung, 1966-1974. MIMBAR PENDIDIKAN, 3(2), 113–136. https://doi.org/10.17509/mimbardik.v3i2.13949
Umam, K. (2016). MUSIK DANGDUT RHOMA IRAMA SEBAGAI MEDIA KRITIK POLITIK PADA ORDE BARU TAHUN 1977-1983. 4(3).
Warami, N. (2016). LAGU “KALI KEMIRI” DAN “PANTAI PASIR DUA” DALAM ALBUM BLACK BROTHERS PAPUA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL. JURNAL TRITON PENDIDIKAN, 1(1), 61. https://doi.org/10.30862/jtp.v1i1.799
Webb, M., & Webb-Gannon, C. (2016). Musical Melanesianism: Imagining and Expressing Regional Identity and Solidarity in Popular Song and Video. The Contemporary Pacific, 28(1), 59–95. https://doi.org/10.1353/cp.2016.0015
Webb-Gannon, C. (2025). Singers, sisters, soldiers, seekers: Lea Firth and the Black Sistaz on being “the voice” for West Papua. 9.
Webb-Gannon, C., & Webb, M. (2019). “More than a Music, It’s a Movement”: West Papua Decolonization Songs, Social Media, and the Remixing of Resistance. The Contemporary Pacific, 31(2), 309–343. https://doi.org/10.1353/cp.2019.0025
Wiyanti, Z. P. (n.d.). MUSIK SEBAGAI METODE KRITIK SOSIAL-POLITIK (Analisis Perlawanan dalam Tiga Lagu Iwan Fals pada Masa Orde Baru).
Zarbock, C. G. (1995). Ethnicity, Identity and Music: The Musical Construction of Place by Martin Stokes (ed). Musicology Australia, 18(1), 78–84. https://doi.org/10.1080/08145857.1995.10415274
Sumber lain:
Jurnal Mambera Foja. 2025. Black Brothers: Dari Jayapura ke Dunia, Gema Musik Papua Tak Pernah Padam - Jurnal Mamberamo Foja (diakses tanggal 2 November 2025).
Jubi.com. 2023. Saudara-saudara Black Brothers Membangun Impian Ayah Mereka | Jubi Papua (akses tanggal 2 November 2025).








